Gersik, headlineindonesia.id – 31 Mei 2026 – Suasana Desa Pranti, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, berubah penuh sukacita dan kemeriahan. Kepala Desa Pranti, Bapak Hardi, menggelar acara adat Ngunduh Mantu putranya, dan menghadirkan kesenian tradisional Ludruk serta musik Campursari khusus untuk menghibur seluruh warga, sekaligus menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup dan dicintai generasi penerus.

Acara yang berlangsung di kediaman Bapak Hardi, RT 03 RW 04 ini, dipadati warga dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga para sesepuh desa, semuanya berkumpul menikmati rangkaian prosesi adat dan pertunjukan seni yang disajikan secara gratis dan terbuka.
Bapak Hardi menjelaskan, selain sebagai wujud rasa syukur atas pernikahan putranya, penyelenggaraan kesenian tradisional ini punya makna lebih dalam. Ia ingin acara bahagia keluarga ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi warga dan upaya nyata melestarikan budaya leluhur.
“Ngunduh mantu adalah tradisi luhur kita. Saya ingin berbagi kebahagiaan ini dengan seluruh warga. Hadirnya Ludruk dan Campursari bukan sekadar hiburan, tapi agar budaya Jawa tidak hilang tergerus zaman. Seniman lokal tetap bisa berkarya, dan anak-anak kita tetap kenal serta bangga dengan seni sendiri,” ujar Bapak Hardi saat memberi sambutan.
Pertunjukan Ludruk yang mengangkat kisah kehidupan rakyat kecil, penuh pesan moral, bumbu kelucuan, dan dialog berbahasa Jawa, berhasil membuat penonton tertawa terbahak-bahak sekaligus merenung. Tak kalah seru, alunan musik Campursari yang memadukan gamelan dan irama modern, mengajak warga bergoyang dan bernyanyi bersama, suasana semakin hangat dan akrab.
Warga Desa Pranti pun sangat mengapresiasi langkah ini. Menurut mereka, jarang ada acara yang mengangkat seni asli daerah secara besar-besaran seperti ini.
“Senang sekali rasanya. Selain terhibur, kami jadi ingat kembali nilai-nilai budaya. Ini juga pendidikan buat anak-anak. Terima kasih Pak Hardi, sudah berbagi kebahagiaan dan menjaga budaya kita,” kata salah satu warga yang hadir.
Acara berlangsung khidmat, aman, dan penuh kebersamaan hingga larut malam. Langkah Bapak Hardi ini diharapkan bisa menjadi contoh, agar tradisi dan kesenian Jawa tetap lestari, menjadi identitas, dan perekat persatuan warga di tengah kemajuan zaman. ( red )












Leave a Reply