Ahmad Febrian Asal Sidoarjo Borong Dua Emas di Kejuaraan Atletik Jatim Open 2026

Sidoarjo, hedlineindonesia.id
Lintasan atletik Oentoeng Poedjadi, FIKK UNESA, menjadi saksi bisu runtuhnya tembok penantian panjang selama 35 tahun bagi Kabupaten Sidoarjo.

Dalam gelaran Jatim Open 2026 yang berlangsung 1-3 Mei, kontingen Sidoarjo melakukan “invasi” podium melalui tiga sprinter muda yang tampil fenomenal.

Bukan sekadar medali, mereka membawa pesan, Sidoarjo siap melahirkan penerus tongkat estafet legenda sekelas Purnomo, Mardi Lestari, hingga Lalu Muhammad Zohri.

Sorotan utama tertuju pada Achmad Dwi Febrian. Turun di kategori KU-18 nomor 100 meter putra, Febrian mencatatkan waktu fantastis 10,53 detik. Di dunia atletik, angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah pernyataan perang, catatan tersebut resmi memecahkan rekor KU-18 dan menjadi alarm keras bagi peta persaingan atletik nasional.

Dominasi Sidoarjo kian absolut dengan keberhasilan M. Surya Agung yang mengunci waktu 10,92 detik, serta performa impresif Ayu Nabila Az-Zahra di sektor putri yang memastikan Sidoarjo kini memiliki “bank data” sprinter elite.

Sugeng Jatmiko, Pelatih Kepala PASI Sidoarjo, menegaskan bahwa ledakan prestasi ini bukan sebuah kebetulan. “Kami tidak sedang bicara tentang keberuntungan.

Ini adalah hasil dari sports science dan disiplin yang mencekik selama bertahun tahun,” ujarnya.

Ia menyebut Febrian sebagai anomali karena memiliki power to weight ratio yang langka di usianya.

Senada dengan itu, Kadisporapar Sidoarjo, Yudhi Iriyanto, menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah.

“Sidoarjo bukan lagi pelengkap. Kami akan kawal transisi mereka dari junior ke senior dengan fasilitas terbaik agar jalur juara nasional tetap terjaga,” tegas Yudhi.

Meski baru saja mengukir rekor, Achmad Febrian tetap membumi namun penuh ambisi.

“Saat menyentuh garis finis, saya hanya teringat mereka yang ragu atlet Sidoarjo bisa bersaing. Tapi ini baru awal. Target saya adalah podium internasional,” ucap bintang baru KU-18 tersebut.

Seorang pakar atletik yang memantau jalannya lomba menyebut fenomena ini sebagai keberhasilan Sidoarjo menciptakan ekosistem kompetisi internal yang sehat. Munculnya tiga nama sekaligus membuktikan adanya “resep rahasia” yang tepat dalam metodologi pelatihan sprint di Kota Delta.(har)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *