Surabaya, headlineindonesia.id
Langit siang itu seperti diam, bumi pertiwi yang pernah disiram darah perjuangan justru menjadi saksi bisu ketika para purnawirawan dan warakawuri dipaksa berhadapan dengan nasib yang getir, terusir dari rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat bernaung.
Di Kelurahan Sawunggaling, Wonokromo, secarik surat keputusan lebih tajam dari peluru, Ia datang bukan sebagai perlindungan, melainkan vonis rumah dinas yang dahulu menjadi simbol penghormatan atas pengabdian, kini berubah menjadi objek eksekusi pada Senin (27/4/2026)
Di antara mereka berdiri Ibu Asnah (83), warakawuri renta dengan mata yang menyimpan sejarah republik.
”Apakah pantas orang yang mempertaruhkan nyawa untuk negara harus tidur di kolong jembatan, Apakah pantas seorang janda pejuang harus mengemis di jalan” ucapnya lirih, namun menghunjam.
Suaminya pernah berangkat membawa sumpah setia pada negeri, sementara ia bertahun tahun hidup dalam cemas menunggu kabar dari medan tugas. Rumah dinas itu bukan sekadar bangunan bercat kusam, ia adalah museum kenangan, saksi bisu air mata, doa, dan penantian seorang istri pejuang,
namun sejarah rupanya bisa dikalahkan oleh administrasi.
Dengan mengatasnamakan ketentuan pimpinan, eksekusi rumah dinas di bawah otoritas Lanud Mulyono berlangsung, selembar surat ditandatangani dingin di atas meja, sanggup menggusur puluhan tahun pengabdian, Ironis negeri ini kadang lebih cepat mengusir veteran daripada mengusir koruptor.

Satirnya, mereka yang dahulu diminta siap mati demi merah putih, kini diminta siap angkat kaki demi regulasi, dulu para pejuang tidur di parit demi republik, kini republik seolah menyiapkan kolong jembatan untuk mereka.
Negara yang besar seharusnya diukur dari bagaimana ia memuliakan pahlawannya, bukan seberapa rapi surat pengusirannya.
Di wajah Ibu Asnah, ada pertanyaan yang menggantung lebih berat dari usia 83 tahun, apakah perjuangan hanya dihargai saat perang, lalu dilupakan saat tua
Ketika rumah para pejuang dieksekusi, yang terusir bukan hanya penghuni tetapi juga nurani.
Dan sejarah akan mencatat, kadang pengkhianatan tak datang dengan dentuman meriam, melainkan dengan kop surat resmi dan stempel lembaga.
Jika dulu penjajah merampas tanah dengan bedil, kini rakyat kecil bisa kehilangan rumah atas nama kebijakan.
Barangkali inilah satire paling pahit tentang kemerdekaan, mereka yang ikut merebut negeri, justru tak selalu punya tempat tinggal di negeri yang direbutnya. (kang paido)















Leave a Reply