Peluru Nyasar dan Misteri Jarak Tembak: Ujian Transparansi Pasmar 2 Surabaya

Surabaya, headlineindonesia.id — Insiden peluru nyasar yang melukai dua pelajar SMP Negeri 33 Gresik, Jawa Timur, memasuki babak krusial. Di tengah proses investigasi yang masih berjalan, sorotan publik kian tajam, terutama terhadap kemungkinan peluru menempuh jarak yang dinilai di luar nalar teknis.

Komandan Pasmar 2, Mayjen TNI (Mar) Oni Junianto, memastikan bahwa pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dengan fokus pada uji balistik dan pengumpulan data teknis. Seluruh amunisi yang digunakan dalam latihan telah diamankan untuk diuji ulang guna memastikan spesifikasi serta jangkauan sebenarnya.
Menurutnya, secara teoritis jarak efektif peluru berada di kisaran 400 meter.

Sementara dalam kondisi tertentu, peluru dapat melaju lebih jauh sebelum akhirnya kehilangan energi dan jatuh. Namun, fakta di lapangan memunculkan tanda tanya besar. Lokasi latihan diketahui berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolah, dilengkapi tanggul setinggi 8 meter serta penghalang alami berupa bukit.

Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar: apakah secara teknis peluru masih mungkin keluar dari lintasan aman hingga mencapai area sekolah?

Untuk menjawab keraguan tersebut, Pasmar 2 Surabaya menggandeng PT Pindad (Persero) serta sejumlah ahli independen guna melakukan pengujian komprehensif.

Keterlibatan pihak eksternal diharapkan mampu memberikan analisis objektif berbasis data ilmiah.

Namun di sisi lain, keputusan untuk tetap melanjutkan latihan menembak pascakejadian turut memantik kritik. Sejumlah pihak menilai langkah tersebut berpotensi mengabaikan aspek kehati-hatian di tengah belum tuntasnya investigasi.
Proses hukum kini berjalan melalui penyelidikan Polisi Militer Kodam V/Brawijaya, yang akan menjadi penentu ada tidaknya unsur kelalaian atau pelanggaran prosedur dalam insiden tersebut.

Sementara itu, penanganan terhadap korban terus dilakukan. Kedua pelajar, DF (14) dan RO (15), sebelumnya menjalani perawatan intensif di RS Siti Khodijah Sepanjang.

Pihak Pasmar 2 menyatakan bahwa bantuan pengobatan dan santunan yang diberikan merupakan bentuk tanggung jawab moral dan empati kepada masyarakat.

Insiden yang terjadi pada 17 Desember 2025 ini kini menjadi alarm serius bagi pelaksanaan latihan militer di kawasan padat penduduk.

Publik tidak hanya menunggu hasil investigasi, tetapi juga menuntut keterbukaan penuh serta evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan.

Tanpa transparansi yang jelas, kepercayaan publik terhadap jaminan keselamatan dalam setiap latihan berisiko terus tergerus.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *