Sidoarjo, 29 November 2025 — Headlineindonesia.id
Ja’far Bendahara PP PAC Sidoarjo Kota menyampaikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya pelatihan penanganan korban NAPZA yang digelar di SMKN 1 Sidoarjo. Kegiatan yang mengusung tema “Peningkatan Pengetahuan Kelainan Neuro-Psikiatri dan Kegawatan Psikiatri pada Konselor Pengguna NAPZA Surabaya–Sidoarjo” ini menghadirkan tim UNIER Surabaya bekerja sama dengan YR Cobra sebagai pendamping teknis.
Pelatihan tersebut dirancang bukan sekadar forum penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang belajar interaktif bagi para konselor dan relawan yang menangani kasus penyalahgunaan narkotika. Dua narasumber utama, yakni dr. Langgeng dan dr. Shela, memaparkan materi yang dianggap sangat relevan dengan tantangan lapangan, mulai dari pengenalan kelainan neuro-psikiatri akibat penggunaan zat, hingga prosedur penanganan darurat korban yang mengalami kegawatan medis maupun psikiatri.
Dalam penyampaiannya, dr. Langgeng menegaskan bahwa dampak NAPZA tidak hanya menyerang fisik pengguna, tetapi juga memengaruhi sistem saraf serta kondisi psikologis. Karena itu, penolong perlu memahami gejala-gejala yang muncul secara menyeluruh. Sementara itu, dr. Shela menekankan pentingnya respons cepat ketika menghadapi korban dengan gejala berat seperti halusinasi, serangan panik, perilaku agresif, hingga kehilangan kesadaran akibat overdosis.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai instansi mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Salah satu peserta, Ja’far Shodiq dari PMI Sidoarjo, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama sesi simulasi penanganan kegawatan medis. Menurutnya, latihan tersebut membantu peserta memahami cara membaca tanda-tanda vital, mengambil keputusan cepat, serta melakukan pertolongan pertama sebelum korban ditangani tenaga medis profesional.
Selain materi teknis, peserta juga mendapatkan modul pendek mengenai pendekatan psikososial, teknik komunikasi yang efektif dengan pengguna, serta strategi preventif untuk menekan angka penyalahgunaan NAPZA di masyarakat. Melalui diskusi kelompok dan studi kasus, peserta diajak melihat kondisi pengguna dari sudut pandang yang lebih manusiawi sekaligus memperkuat peran mereka sebagai garda depan dalam penyelamatan korban.
Para peserta berharap kegiatan serupa dapat diadakan secara rutin, mengingat tingginya kasus penyalahgunaan NAPZA di wilayah Sidoarjo dan Surabaya. Mereka juga berharap adanya pelatihan lanjutan dengan cakupan materi lebih luas, termasuk konseling keluarga, rehabilitasi berbasis masyarakat, dan strategi komunikasi publik untuk kampanye anti-NAPZA yang lebih efektif.
Dengan adanya pelatihan ini, peserta optimis bahwa upaya edukasi dan penanganan korban NAPZA di wilayah Sidoarjo dan Surabaya dapat berjalan lebih profesional, terkoordinasi, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kolaborasi lintas instansi dan pihak sekolah diharapkan semakin kuat guna menekan angka penyalahgunaan narkotika yang kian mengkhawatirkan.(Red)













Leave a Reply