Sidoarjo, headlineindonesia.id | Bermula dari keluhan klasik soal parkir yang tak kunjung tertib, pedagang Pasar Porong justru menemukan fakta yang lebih “mengenyangkan” keberadaan pasar tandingan yang dengan setia beroperasi di area Terminal Porong.
Pasar ini bukan musiman, bukan dadakan, tapi sudah puluhan tahun eksis tanpa gangguan, seolah memiliki izin tak kasat mata.

Fakta tersebut diungkapkan langsung oleh perwakilan pedagang Pasar Porong di hadapan Kepala Dinas Perhubungan, Budi Basuki, ST., M.MT, dalam audiensi yang digelar di Kantor Terminal Porong pada Kamis (22/1/2026). Audiensi yang awalnya membahas parkir, justru berubah menjadi kelas kilat pengenalan fungsi terminal.
Dengan nada tegas namun terdengar seperti pengingat dari buku pelajaran SD, Budi Basuki menyampaikan bahwa terminal adalah tempat naik-turun penumpang, bukan tempat berjualan. Pernyataan ini sontak disambut positif oleh pedagang pasar, mengingat fakta tersebut tampaknya baru benar-benar “diaktifkan” setelah puluhan tahun terminal menjalani fungsi ganda: terminal di siang hari, pasar rakyat sepanjang masa.
Pedagang Pasar Porong pun berharap janji penertiban ini tidak hanya berhenti sebagai kutipan audiensi atau arsip notulen, mengingat mereka telah lama hidup berdampingan dengan terminal yang lebih ramai oleh lapak daripada penumpang.
Letak Pasar Porong yang berdampingan langsung dengan Terminal Porong membuat dampaknya nyata, pembeli memilih praktis, pedagang pasar memilih sabar.
“Kalau terminal memang untuk penumpang, kami sangat setuju. Dari dulu juga setuju,” ujar salah satu pedagang dengan senyum yang sulit diartikan antara harapan dan trauma janji lama.
Diketahui, keberadaan PKL yang tersebar di area Terminal Porong telah berlangsung lebih dari dua dekade, nyaris tanpa tersentuh penertiban. Sebuah rekor konsistensi yang patut dicatat, mengingat ketertiban biasanya dikenal sebagai program jangka pendek.
Kini, pedagang Pasar Porong hanya berharap satu hal agar terminal benar benar kembali menjadi terminal, pasar kembali menjadi pasar, dan janji tidak lagi sekadar penumpang yang naik lalu turun tanpa tujuan.
Karena kesabaran pedagang, seperti terminal itu sendiri, tampaknya sudah terlalu lama dijadikan tempat singgah.(red)













Leave a Reply