Sidoarjo, headlineindonesia.id – Kamis (22/1/2026) menjadi hari penuh harapan sekaligus ironi bagi para pedagang Pasar Porong.
Bertempat di Kantor Terminal Pasar Porong, audiensi antara pedagang dan Dinas Perhubungan digelar untuk membahas satu persoalan klasik yang tak kunjung parkir di tempatnya sistem parkir one gate.

Audiensi ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, Budi Basuki, ST., M.MT, Korwil Pasar Porong Yusron Khoirudin, Fajar selaku Kepala UPT Parkir, serta aparat dari Polsek dan Koramil Porong. Lengkap, formal, dan seperti biasa penuh janji.
Para pedagang, melalui perwakilan mereka, tampak antusias menyampaikan keluhan yang selama ini lebih sering dipendam ketimbang diparkirkan secara resmi. R. Saleh Utomo, salah satu perwakilan pedagang, dengan lugas mengungkapkan kejanggalan sistem one gate yang dinilai “satu pintu, tapi banyak pungutan”.
“Pedagang keluar-masuk pasar itu bukan buat jalan-jalan. Kami ambil barang, bolak-balik, tapi tiap masuk tetap ditarik parkir. Kalau sehari bisa lima kali masuk, ya lima kali juga bayar,” ujarnya, menyiratkan bahwa sistem ini tampaknya lebih rajin menghitung kendaraan daripada memahami aktivitas pedagang.
Ironisnya, sistem yang katanya demi ketertiban justru berbuah kemacetan di dalam pasar. Karena penarikan parkir hanya terfokus di pintu masuk, banyak pengendara akhirnya memarkir kendaraan “sesuai selera”, menyebabkan penumpukan di area yang seharusnya steril. Pasar pun berubah fungsi bukan hanya tempat jual beli, tapi juga arena uji kesabaran.
Sementara itu, Muhaimin, perwakilan paguyuban parkir, saat diwawancarai menjawab dengan narasi diplomatis. Ia berharap aspirasi pedagang dapat segera diwadahi dan miskomunikasi segera “di-clear-kan”. Ia juga mengingatkan bahwa para juru parkir adalah “pejuang APBD”, sebuah istilah heroik yang sayangnya belum sepenuhnya dirasakan adil oleh pedagang.
Di sisi lain meja, Kepala Dishub Budi Basuki menyatakan akan segera menindaklanjuti keluhan tersebut dan menertibkan para juru parkir yang bermitra dengan Dishub. Sebuah pernyataan normatif yang disambut harapan, meski pedagang tampak sudah kenyang dengan menu janji yang serupa di waktu sebelumnya.
Audiensi pun ditutup dengan kesimpulan khas birokrasi akan dikaji, akan dikoordinasikan, dan akan ditertibkan. Sementara itu, pedagang Pasar Porong kembali ke lapak masing masing bersiap untuk esok hari, keluar masuk pasar lagi, dan mungki membayar parkir lagi.
Karena di Pasar Porong, yang satu pintu bukan cuma gate nya, tapi juga arah kebijakan yang belum menemukan jalan keluar. (red)













Leave a Reply