Sidoarjo, headlineindonesia.id
Menjelang tutup kalender politik 2025, Sidoarjo kembali masuk headline nasional dengan drama yang bahkan membuat sinetron prime time terlihat kurang greget. Pertikaian antara Bupati Sidoarjo H. Subandi dan Wakil Bupati Mimik Indayana menjadi puncak gonjang-ganjing kepemimpinan daerah yang seolah tak pernah kehabisan episode.
Panasnya hubungan duet Subandi–Mimik mulai menyeruak ketika Wabup mempersoalkan mutasi jabatan yang disebut-sebut tak sesuai aturan. Bupati di satu sisi mantap melangkah, sementara Wabup memilih menekan tombol lapor ke Kemendagri, karena rupanya, “klarifikasi internal” dianggap sudah tidak memadai.

Ketegangan semakin meletup ketika Bupati Subandi melontarkan pernyataan bahwa “ada orang yang kebelet jadi bupati.” Statemen itu sontak membuat publik menoleh, dan membuat Wabup Mimik langsung memasang counter attack melalui berbagai kanal publik, termasuk akun TikTok WARTANUSA.NET. Dalam salah satu unggahannya, Mimik menegaskan bahwa Subandi justru mengingkari kesepakatan politik yang sebelumnya dibangun.
Belum sempat publik menurunkan tensi, muncul lagi isu penggeledahan pendopo kabupaten oleh Mabes Polri. Namun kabar itu buru-buru dibantah oleh Subandi, mungkin kali ini warganet lebih banyak yang menunggu siapa yang akan klarifikasi via TikTok duluan.
Seakan enggan kalah dramatis, episode berikutnya memperlihatkan Dewan Pengawas RSUD R.T. Notopuro, Mulyono, yang diperiksa Bareskrim Polri terkait isu anggaran Rp 28 miliar. Rumor pun bergulir ke arah keterlibatan Bupati, meski belum ada konfirmasi apa pun dari pihak penyidik.
Tak ingin terlihat pasif, Bupati Subandi kemudian melakukan inspeksi mendadak terhadap enam proyek strategis pada 5 Desember 2025, termasuk pembangunan Alun-alun dan RSUD R.T. Notopuro. Dalam kesempatan itu, ia melontarkan pernyataan bak tantangan gladiator kepada aparat penegak hukum.
“Kita kasih kesempatan APH silakan masuk. Saya bupati siap. Silakan cek semuanya,” ujarnya tegas melalui akun TikTok @cakband1, lengkap dengan gaya nothing to hide yang cukup jarang ditemukan di panggung politik lokal.
Bagi masyarakat Sidoarjo, situasi ini terasa seperti serial yang belum tamat-tamat, plot twist datang bertubi-tubi, rivalitas makin panas, dan setiap adegan baru selalu disertai komentar warganet yang lebih lucu dari sinopsis film komedi.
Menjelang pergantian tahun 2026, warga hanya berharap drama ini segera menemukan akhir yang lebih damai, setidaknya sebelum season baru dimulai. Namun, mengingat sejarah kepemimpinan Sidoarjo sejak era Win Hendrarso hingga Muhdlor Ali yang selalu berujung plot dramatis, publik tampaknya sudah menyiapkan popcorn.
Sidoarjo menunggu, apakah babak berikutnya adalah rekonsiliasi… atau justru spin-off baru.(tukang paido)













Leave a Reply